Allohu Ahad

29 01 2009

Dalam sebuah kesaksian seorang eks suster yang telah mengakui keesaan hakiki Alloh ada sebuah statement yang sangat menarik. Suatu ketika beliau dalam keraguan dengan keyakinan agamanya (nasrani), bertanya pada sahabatnya yang muslim. Pertanyaannya sangat sederhana, “Alloh itu laki-laki atau perempuan?”

Read the rest of this entry »





Perempuan PSK Tua

28 01 2009

Tahun 2003, Survei Surveilans Perilaku kembali menjambangi Kota Sorong. Sebuah survei yang menggali perilaku dari orang-orang yang terjerembab di dunia ‘esek-esek’. Bisa sebagai penyedia maupun sebagai penikmatnya suka atau terpaksa.

 

Di lokalisasi satu-satunya di Kota Sorong, tertata bilik-bilik asmara yang rapi terbagi oleh lorong-lorong. Di salah satu sudut kamar yang sempit, seorang ibu berwajah letih terguras tempaan hidup sebagai penjaja sex komersil menuturkan kisah hidup yang memilukan. Terpampang sebuah bingkai foto anak yang dihias kerudung menjuntai hingga menutup ‘perhiasannya’ dengan cucunya yang tertawa ceria.

Read the rest of this entry »





Dua Sebab Kita Melupakan Alloh

28 01 2009

Hingga saat ini, kasih sayang Alloh masih didentikkan dengan besar kecilnya materi yang diperoleh. Hal itu Aku rasakan pada saat dikarunia sejumlah uang dari peristiwa yang tak terduga, kalimat takbir seraya mengisi short message yang dialamatkan kepada istri nun jauh di sana. Pada saat itu, terasa besar kasih sayang Alloh yang dirasakan. Terasa betul, Alloh mengerti dan memenuhi kebutuhan yang memang sangat mendesak untuk dipenuhi. Tetapi di lain waktu, ketika pundi-pundi uang yang diharap segera pecah tak kunjung tiba, prasangka negatif tak ayal memenuhi isi kepala. Di mana Alloh? Masih sayangkah Alloh padaku?

  Read the rest of this entry »





Menemui Alloh di 1/3 Malam Terakhir

27 09 2008

Aku kedatangan tamu dari Palu. Temanku satu leting di STIS. Kedatangannya untuk melamar anak gadis adik temanku di Bappeda Kota Sorong. Kutemani ia saat bertemu kedua orang tua gadis itu. Dia melamar langsung tanpa didampingi kedua orang tuanya di Nganjuk, Jawa Timur. Ada getar di dada saat ia dengan sungguh-sungguh menyatakan niat sucinya untuk mempersunting anak gadis itu. Dari sudut-sudut mata sang ibu teretas air mata haru. Jarak tidak sanggup menghentikan rencana Alloh jika Ia sudah menghendaki pernikahan itu harus terjadi.

Read the rest of this entry »





Untung, Rugi, dan Celaka

27 09 2008

Sepulang dari kampusku (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta), aku naik Patas 2. Dari jauh patas ini bertuliskan P.002. Kulambaikan tangan kananku dan patas itu berhenti tepat di Halte Statistik. Dengan sedikit berlari aku naik dan kebetulan ada tempat duduk kosong di samping seorang bapak separuh baya. Aku kurang yakin apakah patas itu betul-betul patas 2. Untuk meyakinkanku kutanyakan pada bapak yang duduk di sampingku, “Maaf Pak, apakah ini Patas 2?” tanyaku. “Ya, ini patas 2. Kenapa memang?” Jawab sang bapak sekaligus bertanya kembali padaku. “Habis tadi saya lihat patas ini P. 002,” jawabku. “Memangnya beda P. 2 dan P.002?” tanya Bapak menanggapi jawabanku. Buat orang statistik 2 dan 002 harusnya beda. Kalau 2 berarti hanya ada 1 digit berarti maksimum cuma ada 9 patas. Tapi kalau 002 ada 3 digit yang berarti ada 999 kemungkinan patas di Jakarta.

Rupanya sang bapak tua adalah dosen psikologi UI. Wah kebetulan, pikirku, bisa tanya-tanya soal psikologi. Waktu itu aku tanyakan mengapa aku masih suka berbuat yang tidak disukai Alloh. Bapak itu hanya bertanya padaku, “Apakah Kamu merasa rugi berbuat itu? Kalau kamu merasa rugi, hentikan. Sebaliknya kalau Kamu merasa tidak rugi dan tidak merugikan siapapun, teruskan perbuatan burukmu itu!”

Obrolan ringan di patas 2 waktu itu masih kuingat hingga sekarang. Dalam perjalanan hidupku, uji coba soal kebaikan dan keburukan mewarnaiku. Dalam Alquran, selalu disebutkan dua jalan kebaikan dan keburukan berikut konsekuensi yang bakal terjadi jika kita memilih salah satu jalan yang diberikan. Ego di masa mudaku dan kesombonganku menghantarkan aku pada pilihan keburukanlah yang aku pilih. Perilakuku mirip sebagaimana gambaran QS. 2: 14. Bila sedang bersama teman-temanku yang alim aku ikut alim. Tapi bila sedang sendiri atau bertemu teman setengah alim tabiat burukku tidak bisa tertutupi.

Pengalaman ruhiahku mengatakan teramat banyak musibah yang menimpaku saat itu. Bila derita yang datang sudah sangat menyakitkan, aku bertobat dan berjanji untuk tidak mengulangi. Namun, bila musibah itu telah diangkat, perbuatan burukku kuulangi. Tetapi anehnya, musibah itu selalu didatangkan pada orang-orang terdekatku, orang-orang yang sangat mengasihi dan mencintaiku. Segenap perhatian, tenaga, dan biaya banyak kukeluarkan untuk setiap musibah yang datang. Hingga di satu titik waktu aku merasa lelah dan letih dan aku menyerah dengan segala kesombonganku menentang ancaman Alloh.

Ternyata, sekecil apapun perbuatan buruk senantiasa ada balasan buruk. Dari sini aku menyadari kata-kata “rugi” yang disampaikan Bapak separuh baya di Patas 2 itu. Kerugian dari perbuatan buruk bisa bermakna rugi waktu, rugi tenaga, rugi biaya. Rugi waktu karena umurku kian menuju absorb sementara amal burukku bertambah dan pada saat yang sama tidak ada amal baik yang diperbuat. Rugi tenaga dan biaya karena pada saat musibah datang tidak sedikit pengorbanan waktu, tenaga dan dana untuk menanggulanginya. Misalkan saja pada saat aku ditegur dengan sakit, minimal biaya ke dokter harus ada yang dikeluarkan.

Alloh memang tidak pernah memaksa kita untuk menjadi hamba-Nya. Untuk senantiasa berbuat baik dalam rangka pengabdian kepada-Nya. Tetapi Alloh telah mengaruniakan kita dua mata, dua telinga, dua bibir untuk dapat memilih salah satu jalan dari dua jalan yang ditawarkan. Pertimbangan untung dan rugi sangat bermanfaat dalam menentukan pilihan yang terbaik dan terbijak untuk kita sendiri dalam memilih jalan mana yang akan ditempuh.

Rosululloh malah memberikan tiga alternatif pilihan yaitu untung, rugi dan celaka. Kita dikatakan untung apabila kebaikan kita hari ini lebih baik daripada kemarin. Rugi apabila kebaikan hari ini kita sama dengan hari kemarin, dan celaka apabila kebaikan kita hari ini lebih sedikit daripada hari kemarin. Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang rugi apalagi celaka. Semoga Alloh ridho pada kita dan kitapun ridho pada Alloh. Berbuat baik Yuk!





Suatu Ketika di Waktu Subuh di Kota Sorong

26 09 2008

Entah mengapa ada keinginan yang begitu menggebu untuk mendatangi Mesjid Agung Al-Akbar di waktu subuh ketika itu. Sebuah mesjid Agung di Kota Sorong Irian Jaya Barat yang terletak di tengah-tengah Kota. Mesjid ini begitu megah dengan bentuk menara yang unik dan berdiri kokoh menghujam langit. Dari tempatku, mesjid ini bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Ada seorang nenek tua berjalan tergopoh-gopoh melewati sekitar empat lorong dari rumahnya untuk bisa ke Mesjid Al-Akbar. Perempuan datang ke mesjid tidak aneh apalagi nenek ini sudah sangat sepuh. Menurutku wajar bagi orang-orang yang telah memasuki usia “ashar” banyak mendekat pada ilahi. Yang menjadikanku takjub pada nenek ini adalah beliau berjalan dengan posisi badan yang bungkuk. Posisi tubuh dan kaki penyangga tubuhnya membentuk sudut 90 derajat persis seperti orang sedang rukuk. Aku membayangkan betapa lelahnya berjalan dengan kondisi seperti itu setiap hari. Kalau dihitung mungkin ada satu kilo meter jarak dari mesjid ke rumah sang nenek.

Rasa penasaranku tak dapat mengurungkan niatku tuk bertanya pada nenek itu. Sambil kutemani nenek sepulang sholat subuh aku bertanya, “Nek, tidak cape sholat di mesjid terus? nenek khan bisa sholat di rumah.” Pikirku kewajiban sholat jamaah dikhususkan untuk kaum laki-laki meskipun perempuan tidak dilarang untuk sholat jamaah di mesjid. Sang nenek menjawab, “Nak, sholat jamaah di mesjid itu lebih baik daripada sholat di rumah. Pahalanya bisa 27 kali daripada sholat sendiri.”

Aku takjub. Aku heran. Bagaimana nenek ini begitu mengimani sabda Nabi Muhammad perihal sholat jamaah. Lalu kemana aku sholat selama ini. Aku masih muda. Usiaku saat itu baru 24 tahun. Aku masih sanggup berjalan tegak. Kaki-kakiku masih bisa berjalan hingga 5 kilo meter sekalipun. Tapi mengapa aku lebih suka sholat sendiri?

Empat tahun sudah aku tinggalkan Kota Sorong. Namun kenangan sholat subuh bersama nenek tua itu menghantarkan keyakinanku bahwa sholat berjamaah di mesjid itu jauh lebih baik daripada sholat sendiri. Aku tak pernah merasa asing di tempat rantauku kini. Karena di mesjid aku bisa bertemu saudaraku yang seiman dan nasihat-nasihat agama bisa juga aku dapati dari saudaraku itu.





Tiga Kenikmatan Hidup

25 09 2008

Kenikmatan duniawi beraneka ragam. Kita dapat menikmati kenikmatan itu melalui pandangan, pendengaran, rasa, dan hati. Pendek kata ada nikmat lahir dan nikmat bathin. “… dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan bathin…” (QS. 31: 20).

Ada tiga kenikmatan yang Alloh karuniakan kepada Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman. Dalam surah Ad-Duha ayat 6 – 8 Alloh menggambarkan tiga kenikmatan itu. Pertama, nikmat keamanan (perlindungan). “Bukankan Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungi(mu)” (QS. 93: 6). Kita tahu seorang anak yatim tidak memiliki ayah dan ibu. Ayah simbol pelindung bagi anak-anaknya. Ibu tempat curahan kasih sayang yang tidak tergantikan oleh manusia manapun. Pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah. Oleh karena itu, seorang anak yatim menjadi simbol seseorang yang terancam keamanannya karena tiada ayah sebagai pelindungnya dan tiada ibu yang memberikan kasih sayang sejati padanya. Dengan perlindungan Alloh, tiada satu manusiapun yang dapat mencelakakan Nabi Muhammad. Perlindungan Alloh, sebaik-baiknya perlindungan bagi siapapun.

Nikmat yang kedua adalah nikmat petunjuk. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk” (QS. 93: 7). Petunjuk Alloh sangat kita perlukan dan kita butuhkan. Teramat rumit dan kompleks untuk memahami hidup. Masalah hidup kadang tidak berdiri sendiri. Kita disediakan Alloh begitu banyak pilihan dan begitu banyak kemungkinan. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, tiada sesuatupun yang dapat memberi petunjuk.

Nikmat ketiga adalah nikmat serba berkecukupan. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberi kecukupan” (QS. 93: 8). Dengan nikmat ini manusia manapun tidak akan pernah merasakan kekurangan. Kalau demikian berarti dia telah menjadi manusia kaya yang hakiki. Bukan tidak mungkin rasa berkecukupan tidak didapati pada orang-orang yang bergelimpangan materi. Tidak sedikit juga rasa berkecukupan ini meliputi orang-orang yang terbatas dalam hal materi. Dengan demikian nikmat rasa berkecukupan ini tidak diberikan kepada sembarang orang tetapi hanya kepada orang-orang yang dikehendaki Alloh.

Indah rasanya jika kita dikaruniai ketiga nikmat di atas. Kita tidak akan pernah merasa terancam oleh siapapun. Kita tidak akan pernah linglung atau bingung mengarungi hidup dan kita tidak akan pernah merasa kekurangan. Sebaliknya, kita akan merasa tenang karena Alloh telah menjadi pelindung kita. Kita akan tahu pasti ke mana harus melangkah karena Alloh menjadi Pembimbing hidup kita dan kita akan menjadi “kaya” karena Alloh senantiasa mencukupi segala keperluan kita.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara meraih ketiga nikmat itu?