Hingga saat ini, kasih sayang Alloh masih didentikkan dengan besar kecilnya materi yang diperoleh. Hal itu Aku rasakan pada saat dikarunia sejumlah uang dari peristiwa yang tak terduga, kalimat takbir seraya mengisi short message yang dialamatkan kepada istri nun jauh di sana. Pada saat itu, terasa besar kasih sayang Alloh yang dirasakan. Terasa betul, Alloh mengerti dan memenuhi kebutuhan yang memang sangat mendesak untuk dipenuhi. Tetapi di lain waktu, ketika pundi-pundi uang yang diharap segera pecah tak kunjung tiba, prasangka negatif tak ayal memenuhi isi kepala. Di mana Alloh? Masih sayangkah Alloh padaku?
Sifat dasar kita sebagai manusia yang dhoif, rupanya pernah disitir dalam QS. 89 (AlFAJR) ayat 15 dan 16. Tak kala kita dikaruniai kenikmatan maka kita kan berkata Tuhanku tengah memuliakanku. Sebaliknya, bila kita dalam kondisi rezeqi yang sempit, susah mendapatkan uang terasa Tuhan meninggalkan kita.
Bila kita dalam kesulitan, perasaan ingin lebih mendekat pada Alloh cenderung melebihi hari-hari biasanya. Kita yakini tidak ada penolong selain Alloh. Kita yakini jika Alloh telah menetapkan untuk menolong kita, tidak ada satu makhlukpun yang dapat mencegah datangnya pertolongan Alloh. Sebaliknya, jika Alloh tidak menolong kita, jangan harap ada yang lain yang akan memberikan pertolongan.
Tak kala pertolongan itu datang, pintu-pintu rezeqi telah dibukakan. Jalan hidup telah dimudahkan. Kita dihadapkan pada dua pilihan. Menjadi hamba yang bersyukur atau melupakan doa-doa di kala kesulitan hidup tadi. Apabila pilihan bijak kita jatuh pada pilihan pertama, Alloh menjanjikan menambah kenikmatan yang disyukuri dengan kenikmatan yang lebih besar. Tetapi jika pilihan kedua yang kita tentukan, ada dua kemungkinan yang terjadi. Kita ditambah sedikit kenikmatan yang melenakan hingga pertemuan kita dengan adzab yang dijanjikan benar-benar menjadi kenyataan atau seketika itu juga Alloh menggantikan kenikmatan dengan penderitaan yang menyakitkan.
Hati-hati bila kita termasuk kategori yang melupakan nikmat Alloh tetapi Alloh malah memberi kita kenikmatan yang menipu. Menipu karena dengan kenikmatan itu kita lupa bahwa ada maut yang bakal menjemput. Kita terlena dalam kenikmatan dunia yang bersifat fana. Kita disibukkan dengan menghitung seberapa besar kekayaan yang terkumpul hingga tak sadar mulut kita dijejali tanah di kuburan kita sendiri.
Alloh mengabarkan dua sifat kita sebagai manusia yang paling tidak disukai. Kedua sifat itu adalah kita merasa cukup atau merasa sudah kaya hingga tidak lagi membutuhkan Alloh dan mencintai dunia (materi/non materi) yang berlebihan. Dengan dua sifat itu, kita berprilaku melampaui batas. Melampaui batas karena kita akan berprilaku pelit sepelit-pelitnya, kikir sekikir-kikirnya, dan meremehkan orang serendah rendahnya. Karena kita merasa terjamin oleh harta secuil yang dimiliki. Wajar jika Alloh menyebut kita keterlaluan. Silakan merujuk pada QS. 97 (AL-ALAQ) 6 – 8 dan QS. 100 (Al-ADIYAT) 6 – 8.

salam, ada kata yang sama dalam judul artikelmu sprti judul artkel dalam blogku. mga kunjunganku jadi awal slaturrohim
http://www.masmind.wordpress.com